Rabu, 24 Januari 2018

MELEK HOAX ITU PENTING

Banyak sekali masyarakat yang malas mengkaji, mengevaluasi, maupun mengamati mengenai pemberitaan-pemberitaan dari media sosial, ataupun media - media lainnya. Yang tentunya jelas sangat berbahaya, karena kaitannya bisa menghasilkan persepsi yang salah dan mungkin mengakibatkan fitnah. ingat fitnah lebih kejam dari pada tidak memfitnah. :D sebagai orang islam saya percaya bahwa menyebarkan berita kebohongan itu perbuatan yang dilarang. seperti yang ALLAH firman kan : "Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. [Al Hujurat : 6]. Disini sangat penting kita sebagai masyarakat agar lebih sadar tentang literasi media. karena bukan hanya menimbulkan kekacauan namun jelas bisa merugikan diri kita sendiri dan tentunya hukumnya dosa. Seperti contohnya pemberitaan-pemberitaan tentang terorisme di televisi-televisi maupun media yang terkesan selalu menyudutkan Agama Islam. tidak hanya kepada agama islam sebenernya, masih banyak lagi. Sebagai masyarakat kita harus mulai belajar mengkaji muatan politik apa yang berada dibelakang pemberitaan-pemberitaan tersebut. Apakah memang benar kebenaran berita tersebut ?, apakah ada muatan "Politik" dibelakangnya ? pengalihan isu ? mendiskriminasi golongan tertentu ? dan sebagainya. Efek dari pemberitaan-pemberitaan yang intens diberitakan tersebut membuat orang-orang yang malas mengkaji informasi atau pemberitaan tersebut melakukan persepsi yang salah. dan tentunya merugikan golongan tertentu. Agama islam semakin disudutkan, orang tua jadi phobia apabila anak-anaknya mengikuti pengajian-pengajian dimasjid-masjid, dengan alasan takut mengikuti aliran sesat dan sebagainya. Namun tahu kah kita bahwa mungkin itu TUJUAN UTAMA dari pemberitaan-pemberitaan yang diinformasikan di media-media tersebut. (menjauhkan orang islam dari agamanya?, ataukah memang murni islam dijadikan alat terorisme?)

Kamis, 15 Juni 2017

Desain Website Sepakbola

Berita Update

Atletico Madrid berhasil mengalahkan PSV Eindhoven melalui adu pinalti dengan score 8-7. Atletico otomatis lolos ke delapan besar liga champions.

Read More

Populer

Manchester City ditahan imbang Dynamo Kyiv, namun City tetap lolos ke delapan besar berkat agregat 3-1.

Leonel messi akan terus bermain di FC.Barcelona hingga 2021 dan dia juga ingin bermain di club argentina selanjutnya.

Barcelona akan membangun stadion dan target penyelesaian tahun 2021, Desain stadion pun sudah dirilis.


Neymar JR

Neymar jr betah bermain di klub Barcelona dan akan terus bermain.

Read more

Trio MSN

Kekompakan trio MSN ditakuti oleh para lawan pada setiap pertandingan.

Read more

C. Ronaldo

Ronaldo melakukan tendangan bebas pada pertandingan.

Read more

Senin, 29 Desember 2014

 PENGARUH PENJUALAN KREDIT TERHADAP PIUTANG DAGANG
(Studi Pada Perusahaan Dagang TB. Laksana Group Periode 2013)

UMMULUDIN (021304124)
UNIVERSITAS WIDYATAMA
FAKULTAS BISNIS DAN MANAJEMEN
BANDUNG


 ABSTRAK

            Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis apakah terdapat pengaruh penjualan kredit terhadap piutang dagang. Subjek dalam penelitian ini adalah perusahaan dagang untuk periode 2013. Terdapat dua tujuan di dalam penelitian ini, yaitu untuk mengetahui : (1) pengaruh penjualan kredit terhadap piutang dagang, (2) seberapa berpengaruhnya piutang dagang kepada kelangsungan hidup perusahaan.
            Hasil pengujian hipotesis menunjukan bahwa penjualan kredit berpengaruh terhadap piutang dagang, semakin tinggi volume penjualan perusahaan maka semakin besar pula piutang dagang dan semakin besar kemungkinan piutang tidak tertagih akan berdampak kepada perputaran modal perusahaan dan selanjutnya akan berpengaruh kepada kelangsungan hidup perusahaan.


Kata Kunci : Penjualan Kredit, Piutang Dagang, Modal Usaha.

1.             PENDAHULUAN
Persaingan bisnis yang ketat seiring dengan perkembangan perekonomian dan teknologi dalam memasuki era globalisasi menuntut perusahaan untuk terus mengembangkan Inovasi produk, meningkatkan kinerja karyawan, dan melakukan perluasan usaha, agar terus dapat bertahan dan bersaing. Demi mempertahankan usahanya tersebut, Perusahaan harus memperoleh keuntungan (laba) yang maksimal dari setiap penjualan produk yang didapatkan. Tidak sedikit perusahaan yang menjual produknya secara kredit kepada pelanggan. Penjualan kredit semacam ini sering dilakukan perusahaan dalam rangka meningkatkan jumlah penjualan produknya di pasaran mengingat keadaan persaingan yang semakin besar. Transaksi penjualan secara kredit seperti ini pada umumnya disebut piutang.
Menurut (Warren, et.all 2008:356), istilah piutang (Receivable) meliputi semua klaim dalam bentuk uang terhadap pihak lainnya termasuk individual, perusahaan, atau organisasi lainnya. Masalah piutang ini menjadi penting manakala perusahaan harus menilai dan mempertimbangkan berapa besarnya jumlah piutang yang optimal. Mengingat pentingnya suatu piutang tersebut, Piutang perusahaan harus dikeloka secara efisien dengan biaya-biaya yang ditimbulkan karena adanya piutang. Semakin besar piutang semakin besar pula biaya-biaya (Carrying Cost) yang dikeluarkan perusahaan. Oleh karena itu setiap perusahaan menggambil kebijakan untuk memberikan kredit yang sudah ditetapkan agar konsumen mereka membayar hutang pada tepat waktu yang telah ditentukan. Megingat bahwa piutang merupakan bentuk investasi yang cukup besar bagi perusahaan dan memberikan manfaat bagi perusahaan, maka diperlukan adanya manajemen piutang yang lebih baik sehigga keuntungan-keuntungan yang didapatkan lebih meningkat. Selain itu piutang juga dapat mengukur kemampuan perusahaan dengan keseluruhan dana atau modal yang ditambahkan dalam aktiva yang digunakan untuk operasi perusahaan dan menghasilkan keuntungan atau laba yang besar bagi perusahaan.
            Penulis dalam penelitian ingin memilih perusahaan dagang (trade retail) sebagai objek penelitian. Pemilihan perusahaan dagang (trade retail) dikarenakan perusahaan ini selalu mempunyai kinerja keuangan dan tingginya persaingan perusahaan dagang (trade retail). Hal tersebut ditandai dengan banyaknya gedung pertokoan seperti mall, minimarket, supermarket, disekitar kita, sedangkan harga kebutuhan pokok selalu mengalami kenaikan.
            Mengingat begitu besar pengaruh yang diberikan penjualan kredit terhadap piutang dagang yaitu piutang tidak dibayar berdampak kepada perputaran modal dan perkelanjutan kepada kelangsungan hidup perusahaan, maka peneliti tertarik untuk mengkaji mengenai piutang dagang, sehingga peneliti menggambil judul “PENGARUH PENJUALAN KREDIT TERHADAP PIUTANG DAGANG” (Studi Pada Perusahaan Dagang TB. Laksana Group Periode 2013).

Identifikasi Masalah
Berdasarakan latar belakan yang telah dikemukakan, maka masalah yang akan dibahas akan diuraikan sebagai berikut:
  1.  Apakah penjualan kredit berpengaruh terhadap piutang dagang? 
  2.   Apakah modal usaha berpengaruh terhadap piutang dagang?

Tujuan Penelitian
Berdasarkan uraian pada latar belakang penelitian di atas, permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi Perputaran Piutang pada Perusahaan Dagang.
Adapun tujuan penelitian ini adalah :
  1. Untuk mengetahui apakah penjualan kredit berpengaruh terhadap piutang dagang.
  2. Untuk mengetahui apakah modal usaha berpengaruh terhadap piutang dagang.

Kegunaan Penelitian 
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat antara lain:
Sebagai sarana untuk menambah wawasan dan pengetahuan dikalangan akademisi secara teoritis mengenai pengaruh peningkatan penjualan dan penurunan modal usaha terhadap perputaran piutang dagang pada perusahaan dagang.

           Lokasi dan Waktu Penelitian
Data laporan keuangan diperoleh dari laporan keuangan bulanan perusahaan dagang TB. Laksana Group jalan Sariwangi No. 201 Bandung.

2.         TINJAUAN TEORITIS

PENJUALAN
Aktivitas penjualan merupakan pendapatan utama perusahaan karena jika aktivitas penjualan produk maupun jasa tidak dikelola dengan baik maka secara langsung dapat merugikan perusahaan. Hal ini dapat disebabkan karena sasaran penjualan yang diharapkan tidak tercapai dan pendapatan pun akan berkurang.
Menurut Mulyadi (1993:204), Penjualan adalah kegiatan atau transaksi-transaksi yang terjadi di dalam suatu perusahaan untuk mengalihkan kepemilikan atas barang atau jasa yang tersedia dan sebagai imbalannya diperoleh satu sumber daya lain seperti atau piutang dagang/wesel tagih.
Kotler (1995:23), penjualan adalah transaksi menukar produknya menjadi uang tunai dan memenuhi kebutuhan pelanggan. Jadi dapat disimpukan bahwa penjualan adalah kegiatan operasi perusahaan dalam menjual produk yang dihasilkan oleh perusahaan baik secara tunai maupun kredit.
Jenis Penjualan
Menurut Mulyadi (2001:202), kegiatan penjualan terdiri dari transaksi penjualan barang dan jasa, baik secara kredit maupun secara tunai, yaitu:
1.    Penjualan Tunai, dalam penjualan tunai, barang atau jasa baru diserahkan oleh perusahaan kepada pembelian jika perusahaan telah menerima kas dari pembeli.
2.    Penjualan Kredit, dalam transaksi penjualan kredit, jika order dari pelanggan telah dipenuhi dengan pengiriman barang atau penyerahan jasa, untuk jasa waktu tertentu perusahaa memiliki piutang kepada pelanggannya.

PENGERTIAN PIUTANG
Penerapan sistem penjualan secara kredit yang dilakukan perusahaan merupakan salah satu usaha perusahaan dalam rangka meningkatkan volume penjualan. Penjualan kredit tidak segera menghasikan penerimaan kas, tetapi menimbulkan apa yang disebut dengan piutang, sehingga dengan kata lain piutang timbul karena perusahaan menerapkan sistem penjualan secara kredit.
            Dalam berbagai referensi piutang sering juga diartikan sebagai bentuk klaim yang ditujukan kepada pihak lain sebagaimana definisi yang dikemukakan oleh (Warren, et. all 2008:404) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan piutang adalah meliputi semua klaim dalam bentuk uang terhadap pihak lainnya, termasuk individu, perusahaan atau organisasi lainnya. Dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud engan piutang adalah semua tuntutan atau tgihan kepada pihak lain dalam bentuk uang atau barang yang timbul dari adanya penjualan secara kredit.
            Selain itu, menurut (Munir 2005:15) lebih mengkhususkan definisi piutang pada piutang dagang, piutang dagang adalah tagihan kepda pihak lain (kepada kreditur atau langganan) sebagai akibat adanya penjualan barang secara kredit. Jadi, piutang dagang dapat diartikan bahwa perusahaan memiliki hak penagihan terhadap pihak lain yang menjadi langganannya dan mengharap pembayaran dari mereka agar memenuhi kewajiban terhadap perusahaan.
            Jenis Piutang
            Selain itu pengertian piutang yang pada umumnya digolongkan kedalam aktiva lancer yang berarti bahwa tagihan-taguhan pada pihak lain yang nantinya akan diminta pemayarannya dalam jangka aktu yang tidak lama (kurang dari satu tahun) yang biasanya digolongkan dalam piutang jangka pendek.
Piutang jangka pendek dapat dibagi atas dua yaitu:
1.    Piutang usaha/piutang terhadap langganan
Piutang usaha/piutang terhadap langganan dalam perkiraan piutang usaha dicatat sebagai tagihan yang timbul dari penjualan barang atau jasa yang merupakan usaha perusahaa yang normal/kurang dari satu tahun, disajikan dlam neraca sebagai aktiva lancer, tetapi apabila telah lebih dari jangka waktu satu tahun maka akan dilaporkan sebagai asset tidak lancer. Taguhan kepada langganan yang biasanya disebut piutang dagang adalah tuntutan keuangan terhadap pihak lain.
2.    Piutang yang akan diterima
Piutang yang akan diterima merupakan kontrak prestasi yang sebenarnya sudah menjadi hak perusahaan, akan tetapi belum/tidak saatnya untuk diterima, piutang ini timbul pada suatu akhir periode dimana sebenarnya tagihan tersebut akan diterima pada periode yang akan datang.
Warren, et. all (2008:405) mengklasifikasikan piutang usaha, wesel tagih, dan piutang lain-lain sebagai berikut:
1.    Piutang Usaha
Piutang usaha timbul dari penjualan secara kredit agar dapat menjual lebih banyak produk atau jasa kepada pelanggan. Piutang usaha semacam ini normalnya diperkirakan akan tertagih dalam periode waktu yang relative pendek, seperti 30 atau 60 hari.
2.    Wesel Tagih
Wesel tagih adalah jumlah yang terutang bagi pelanggan di saat perusahaan telah menerbitkan surat utang formal. Wesel biasanya digunakan untuk periode kredi lebih dari 60 hari. Wesel bisa digunakan untuk menyelesaikan piutang usaha pelanggan. Bila wesel tagih dan piutang usaha berasal dari transaksi penjualan maka hal itu kadang-kadang disebut piutang dagang (trade receivable).
3.    Piutang lain-lain
Piutang lain-lainbiasanya disajikan secara terpisah dalam neraca. Jika piutang ini diharapkan akan tertagih dalam satu tahun, maka piutang tersebut diklasifiksikan sebagai aktiva lancar. Piutang lain-lain (other receivable) meliputi piutang bunga, piutang pajak, dan piutang dari pejabat atau karyawan perusahaan.
Penggolongan piutang dan umur piutang dapat digolongkan ke dalam 4 jenis, yaitu:

  1. Piutang lancar adalah piutang yang diharapkan tertgihnya dalam satu tahun atau siklus usaha normal.
  2. Piutang tidak lancar adalah tagihan/piutang yang tidak dapat ditagih dalam jangka waktu satu tahun.
  3. Piutang yang dihapuskan adalah suatu taguhan yang tidak dapat ditagih lagi dikarenakan pelanggan mengalami kerugian/bangkrut (tidak tertagih).
  4. Piutang dicadangkan adalah tagihan yang disisihkan sebelumnya untuk menghindari piutang tidak tertagih.

            Faktor yang Mempengaruhi Besarnya Piutang
Besar kecilnya piutang dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut diantaranya seperti yang dikemukakan oleh Bambang Riyanto (2008:85-87) seagai berikut:
1.    Volume Penjualan Kredit
     Makin besar proporsi penjualan kredit dari keseluruhan penjualan memperbesar jumlah investasi dalam piutang.
2.    Syarat Pembayaran Penjualan Kredit
     Syarat pembayaran penjualan kredit dapat bersifat ketat atau lunak. Apabila perusahaan menetapkan syarat pembayaran yang ketat berarti bahwa perusahaan lebih mengutamakan keselamatan kredit daripada pertimbangan profitabilitasnya. Syarat pembayaran lebih ketat misalnya dalam bentuk batas waktu pembayaran yang pendek, pembebanan bunga yang berat pada pembayaran piutang yang terlambat.
3.    Ketentuan Tentang Pembatasan Kredit
Dalam pejualan kredit, perusahaan dapat menetapkan batas maksimal kredit yang diberikan kepada para langganannya. Makin tinggi batas maksimal kredit yang ditetapkan bagi masing-masing langganan, berarti makin besar pula ana yang diinvestasikan dalam piutang.
4.    Kebijaksanaan dalam Mengumpulkan Piutang
      Perusahaan yang menjalankan kebijaksanaan secara aktif, maka perusahaan harus mengeluarkan uang yang lebih bsar untuk membiayai aktivitas pengumpulan piutang, tetap dengan menggunakan cara ini, maka piutang yang ada akan lebih cepat tertagih, sehingga akan lebih memperkecil jumlah piutang perushaan. Sebaliknya, jika perusahaan menggunakan kebijaksanaan secara pasif, maka pengumpulan piutang akan lebih lama, sehingga jumlah piutang peruahaan akan lebih besar.
5.    Kebiasaan Membayar dari Para Langganan
      Kebiasaan para pelanggan untuk membeyar dalam periode Cash Discount akan mengakibatkan jumlah piutang lebih kecil, sedangkan langganan membeyar periode setelah Cash Discount akan mengakibatkan jumlah piutang lebih besar Karena jumlah dana yang tertanam dalam piutang lebih lama untuk menjadi kas.
            Kerugian Piutang
Setiap penjualan kredit memiliki risiko kerugian piutang karena adanya piutang yang tidak tertagih. Ketika piutang dagang menjadi tidak tertagih, suatu perusahaan membebankan kerugian penghapusan piutang dagang. Kerugian ini diakui sebagai biaya dari perusahaan sehingga dikelompokkan sebagai biaya penjualan. Menurut S. Munawir (2007: 258) berpendapat bahwa : Semakin besar Day’s Receivable suatu perusahaan semakin besar pula risiko kemungkinan tidak tertagihnya piutang. Dan kalau perusahaan tidak membuat cadangan terhadap kemungkinan kerugian yang timbul karena tidak tertagihnya piutang (Allowance For Bad Debt) berarti perusahaan telah memperhitungkan labanya terlalu besar (Overstated). Risiko kerugian piutang terdiri dari beberapa macam yaitu :
  1.      Risiko tidak dibayarnya seluruh tagihan (piutang).
  2.      Risiko tidak dibayarnya sebagian piutang.
  3.      Risiko keterlambatan pelunasan piutang.
  4.      Risiko tidak tertanamnya modal dalam piutang.
                    Manfaat Penjualan Kredit
Gunawan Adisaputra (2003: 43) mengemukakan manfaat penjualan kredit, antara lain:
  1.          Upaya untuk meningkatkan omzet penjualan.
  2.           Meningkatkan keuntungan.
  3.      Meningkatkan hubungan dagang antara perusahaan dengan para langganan.
  4.      Manfaat keuntungan berupa selisih bunga modal pinjaman yang harus dibayarakan
  5.      kepada bank sebagai sumber dana pembelanjaan piutang.

            Pengertian Perputaran Piutang Dagang
Penjualan yang dilakukan secara kredit oleh suatu perusahaan secara otomatis akan mempengaruhi tingkat perputaran piutangnya. Naik turunnya tingkat perputaran piutang dalam suatu perusahaan banyak dipengaruhi oleh barbagai macam faktor, baik faktor intern maupun ekstern.
Pengertian perputaran piutang menurut Syamsuddin (2001 : 254) adalah sebagai berikut :
”Perputaran piutang merupakan rasio perbandingan antara jumlah penjualan kredit selama periode tertentu dengan piutang rata-rata (piutang awal ditambah piutang akhir dibagi dua)”.
Sedangkan Keown, Scott, Martin & Petty (2000 :406) mengemukakan bahwa :
“Meskipun beberapa dari penjualan dilakukan dalam bentuk tunai, sebagian besar akan terlibat dalam bentuk kredit, kapanpun sebuah penjualan dilakukan dengan kredit , ini akan meningkatkan piutang perusahaan. Kepentingan tentang bagaimana sebuah perushaan mengatur perputaran piutangnya bergantung pada tingkatan sebesar apa perusahaan tersebut menjual dalam bentuk kredit”.  
Perputaran piutang dalam suatu perusahaan tergantung dari bagaimana sebuah perusahaan mengaturnya dan tingkatan sebesar apa perusahaan tersebut menjual produknya secara kredit. Semakin banyak produk barang maupun jasa yang dijual secara kredit, maka kemungkinan besar akan memperlambat pada tingkat perputaran piutang begitupun sebaliknya.
Risiko-risiko yang Timbul dari Pemberian Piutang
            Setiap kebijakan yang dilakukan oleh perusahaan pasti akan mempunyai dampak dan pengaruh yang ditimbulkan, baik itu yang menguntungkan maupun merugikan perusahaan itu sendiri. Resiko yang dapat ditimbulkan terhadap perusahaan yang melaksanakan kebijakan kredit menurut Muslich (2003 : 116) adalah sebagai berikut  :
  1. Risiko tidak dibayarnya seluruh piutang
  2. Risiko tidak dibayarnya sebagian piutang
  3. Risiko keterlambatan pembayaran piutang
  4. Risiko tertanamya modal dalam piutang.

              Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa resiko yang paling berat bagi perusahaan adalah resiko tidak dibayarnya seluruh atau sebagian piutang, sebab hal ini merupakan kerugian yang paling besar. Apabila terjadi resiko keterlambatan didalam pelunasan pembayaran piutang, hal ini akan menimbulkan tertundanya waktu untuk memenuhi kewajiban dari perusahaan yang harus segera dibayar. Sedangkan apabila terlalu banyak memberikan piutang, maka dengan sendirinya banyak modal yang tertanam dalam piutang. Oleh karena itu, perusahaan harus bisa menekan seminimum mungkin terhadap resiko yang timbul dengan adanya piutang sehingga diharapkan tidak menimbulkan hal yang merugikan bagi perusahaan.

            Alat Analisis Untuk Mengukur Perputaran Piutang
            Menurut Syamsuddin (2001 : 258) Sebagai cara untuk mengetahui tingkat efektifitas piutang yang diberikan perusahaan kepada pelanggan, maka perusahaan dapat menggunakan rasio penghitungan sebagai berikut :
1. Tingkat perputaran piutang /Account receivable turnover
Merupakan rasio perbandingan antara jumlah penjualan kredit selama periode tertentu dengan piutang rata-rata (piutang awal ditambah piutang akhir).
Rumus perhitungannya adalah sebagai berikut : 



2.  Hari rata-rata pengumpulan   piutang/Average collection period
Merupakan jumlah periode  waktu atau hari yang akan digunakan perusahaan untuk mengumpulkan piutangnya.
Rumus perhitungannya adalah sebagai berikut : 


3.       KERANGKA PEMIKIRAN
           Piutang perusahaan timbul Karena adanya kebijakan perusahaan dalam proses kegiatan perusahaan dengan sistem kredit. Sehingga menghasikan istilah piutang perusahaan terhadap peanggan. Perkembangan perusahaan dapat dicapai dengan meningkatkan kegiatan usaha perusahaan yaitu melalui pelunasan maupun pemberian kemudahan pembayaran untuk pelanggan sehingga volume penjualan dapat ditinggikan. Untuk itu perusahaan cenderung melakukan penjualan kredit. Penjualan yang dilakukan secara kredit menyebabkan perusahaan tidak langsung menerima pendapaan berupa kas, melainkan piutang.
            Penjulan kredit yang diterapkan perusahaan menimbulkan piutang, dimana dana yang diinvestasikan dalam piutang tersebut diharapkan akan kembali dalam waktu kurang dari satu tahun sehingga dapat dijadikan salah satu sumber pendapatan bagi perusahaan untuk memenuhi kewajiban fiansialnya dalam jangka pendek, maka dari itu diperlukan suatu aktivitas penagihan yang terencana untuk menjamin kelangsungan operasional perusahaan. Hal ini dikarenakan jika perusahaan sanggup mempercepat perputaran piutang, maka waktu terkaitnya modal dala piutang akan lebih pendek. Semakintinggi perputaran piutang usaha, semakin cepat perusahaan mendapatkan kas (uang tunai).
            Pada kenyataannya, masalah penjualan secara kredit dan piutang dagang merupakan hal yang komples dan akan terus ada dan berlanjut, sehingga diperlukan beberapa faktor-faktor sebagai tolak ukur yang pasti untuk menentukan dampak dari terjadinya piutang pada perusahaan. Berdasarkan latar belakang dan kerangka pemikiran tersebut, maka hubungan antara penjualan kredit terhadap piutang dagang dapat digambarkan dalam kerangka pemikiran sebagai berikut:


                                                                                                     

                                                                      Gambar 1.1
                                                             Kerangka Pemikiran

4.      HIPOTESIS PENELITIAN
Berdasarkan uraian dalam kerangka pemikiran dapat disusun hipotesis sebagai berikut:
a.    Hipotesis 1:
Ho: Penjualan kredit berpengaruh terhadap piutang dagang.

b.    Hipotesis 2:
H1: Modal usaha berpengaruh terhadap piutang dagang.
5.        METODE PEMBAHASAN
            Penelitian ini berbentuk penelitian deskriptif yaitu suatu metode dalam meneliti status kelompok manusia, suatu objek, suatu sistem pemikiran, ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuannya untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, factual, dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sif at yang diselidiki (Nazir, 2003).

6.               PEMBAHASAN
            Kredit mengandung pengertian adanya suatu kepercaya dari seseorang atau badan yang diberikan kepada seseorang atau badan lain atas penundaan pembayaran atas barang atau jasa yang manfaatnya dirasakan saat ini dengan pembayaran yang dilakukan dimasa yang akan datang. Pemberiankredit dilakukan menurut prosedur dan kebijakan yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Dengan adanya kebijakan kredit diharapkan pembeli dapat menepati jangka wktu pembayaran yang telah ditentukan.
            Kebijakan penjualan kredit menyangkut kebijakan untuk menentukan seberapa besar perusahaan dapat melakukan penjualan kredit dan kepada siapa saja perusahaan dapat menjual secara kredit. Dalam hal ini, analisis tidak hanya menyangkut tingkat kepercayaan financial kepada pelanggan, tetapi juga menyangkut estimasi jumlah kredit yang mampu ditanggung oleh pelanggan. Oleh karena iu, perusahaan biasanya akan menetapkan batas kredit yang boleh diberikan kepada pelanggan.
Berdasarkan pembahasan diatas, terdapat tabel dan grafik hasil penjualan dan piutang TB. Laksana Group.

 Tabel 1.1
Hasil Penjualan per bulan TB. Laksana Group periode 2013
MONTH
SALES
 JANUARI
                         52,430,000.00
 FEBRUARI
                         68,119,000.00
 MARET 
                         80,111,000.00
 APRIL 
                         80,983,000.00
 MEI 
                      105,968,000.00
 JUNI
                      112,198,000.00
 JULI
                      130,056,000.00
 AGUSTUS
                      134,500,000.00
 SEPTEMBER
                      146,111,000.00
 OKTOBER
149,871,000.00
 NOVEMBER
                      150,021,000.00
 DESEMBER
                      150,009,000.00

Tabel 1.2
Piutang Dagang per bulan TB. Laksana Group periode 2013
MONTH
 ACCOUNT RECEIVABLE
 JANUARI
                         22,430,000.00
 FEBRUARI
                         38,119,000.00
 MARET 
                         55,111,000.00
 APRIL 
                         55,983,000.00
 MEI 
                         80,968,000.00
 JUNI
                         97,198,000.00
 JULI
                      115,056,000.00
 AGUSTUS
                      119,500,000.00
 SEPTEMBER
                      121,111,000.00
 OKTOBER
                      119,871,000.00
 NOVEMBER
                      120,021,000.00
 DESEMBER
                      120,009,000.00
                                                                               
Gambar 1.2
Grafik Hasil Penjualan

Gambar 1.3
Grafik Piutang Dagang

            Tabel dan grafik diatas menunjukan hasil penjulan dan piutang TB. Laksana Group dari bulan Januari sampai Desember tahun 2013. Tabel 1 menunjukan hasil penjualan yang terus meningkat dan Tabel 2 menunjukan piutang dagang.
            Dalam kasus ini Toko Bangunan Laksana Group bergerak dalam bidang penjualan barang-barang bangunan atau matrial dan transaksi yang dikalukan setiap harinya cukup besar, dalam meningkatkan pendapatan dan meningkatkan volume penjualan toko sudah tentu membutuhkan kebijakan penjualan secara kredit yang akan menghasilkan piutang dagang bagi toko. Dengan kebijakan penjulan secara kredit ini berarti perusahaan akan menghadapi beberapa resiko yang timbul. Resiko tersebut meliputi besarnya modal usaha yang tertanam dalam piutang dagang, keterlambatan dalam melunasi piutang dagang, bahkan resiko tidak dibayarkannya sebagian atau seluruh utangnya akan berdampak merugikan bagi toko.
Piutang yang tidak dapat ditagih atau disangsikan penerimaannya secara keseluruhan menyebabkan masalah modal usaha yang artinya macetnya pembayaran sejumlah uang dari toko ke pemasok. Jika piutang hanya dapat ditagih sebagian maka di masa yang akan datang akan mengurangi pendapatan perusahaan. Namun jika risiko berupa terlambatnya pelunasan piutang, maka perusahaan harus menambah dana untuk penagihan sehingga menimbulkan biaya yang lebih besar bagi perusahaan. Piutang dicatat atau dilaporkan dalam neraca menurut Standar Akuntansi Keuangan. Kerugian piutang ini sangat mempengaruhi keadaan aktiva lancar yang berarti akan sangat berpengaruh dalam tingkat perusahaan membayar hutang usahanya.
Menurut grafik 1 diatas menunjukan bahwa terjadi peningkatan penjualan yang fluktuatif di setiap bulannya, begitu juga dengan grafik 2 menunjukan peningkatan piutang dagang yang fluktuatif, yang menunjukan bahwa apabila volume penjualan meningkat akan berpengaruh kepada peningkatan piutang dagang.

Hasil penelitian ini juga didukung oleh landasan teori pada pembahasan sebelumnya yang menyebutkan bahwa penjualan kredit menentukan seberapa besar perusahaan dapat meningkatkan penjualan tanpa mengurangi modal usaha, akibat dari besarnya penjulan kredit akan meningkatkan pula piutang tak tertagih dan kepada siapa saja perusahaan dapat menjual secara kredit. Pertumbuhan penjualan juga merupakan indikator penermintaan dan daya saing perusahaan dalam suatu pasar. Laju pertumbuhan suatu perusahaan akan mempengaruhi kemampuan mempertahankan keuntungan dalam menandai kesempatan-kesempatan pada masa yang akan datang.          


KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
            Pembahasan ini meneliti mengenai pengaruh penjualan kredit terhadap piutang dagang. Berdasarkan hasil survey dalam penelitian ini, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

  1.  Variabel penjualan secara kredit berpengaruh terhadap piutang dagang. Artinya semakin tinggi tingkat volume penjualan maka semakin tinggi juga tingkat piutang dagang yang dihasilkan, dan semakin besar juga modal usaha yang dipakai.
  2. Penjualan secara kredit juga mempengaruhi tingkat besaran modal usaha yang dipakai dan meningkatkan kemungkinan piutang yang tidak tertagih.
Saran

  1. Bagi perusahaan atau pengusaha diharapkan untuk bisa meminimalisir piutang dagang agar piutang dagang yang di berikan kepada pelanggan tetap lancar dan tidak menjadi piutang tak tertagih yang menyebabkan kepada kelangsungan hidup perusahaan.



                                                                DAFTAR PUSTAKA

Gunawan Adisaputra. 2003. Analisa Laporan Keuangan. Liberty: Yogyakarta.


Keown, Arthur J., et al., 2000. Basic Financial Management, Ahli Bahasa, Chaerul D. dan Dwi Sulisyorin, Dasar-Dasar Manajemen Keuangan, Buku Kedua, Jakarta: Salemba Empat.


Kotler, Philip, 1995. Principles of Marketing, Fifth Edition, Prentice-Hall Inc., New Jersey.


Lukman Syamsuddin. 2009. Manajemen Keuangan Perusahaan. Rajawali Pers: Jakarta.


Mulyadi. 2001. ”Sistem Perancangan dan Pengendalian Manajemen”. Jakarta: Salemba Empat.


Munawir. 2001. Analisa Laporan Keuangan. Yogyakarta : Liberty.


Muslich Mansur. 2003. KTSP Dasar Pemahaman dan Pengembangan. Jakarta: Bumi Aksara.




Nazir, Mohammad. 2003. Metodologi Penelitian. Edisi Revisi. Jakarta: Ghalia Indonesia.


Riyanto, Bambang. 2008. Dasar Pembelanjaan Perusahaan. Yogyakarta: BPFE.


Warren, R.F.2008. Pengantar Akuntansi, Edisi 21, Buku Satu. Salemba Empat.    Jakarta.