PENGARUH
PENJUALAN KREDIT TERHADAP PIUTANG DAGANG
(Studi
Pada Perusahaan Dagang TB. Laksana Group Periode 2013)
UMMULUDIN
(021304124)
UNIVERSITAS
WIDYATAMA
FAKULTAS
BISNIS DAN MANAJEMEN
BANDUNG
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
apakah terdapat pengaruh penjualan kredit terhadap piutang dagang. Subjek dalam
penelitian ini adalah perusahaan dagang untuk periode 2013. Terdapat dua tujuan
di dalam penelitian ini, yaitu untuk mengetahui : (1) pengaruh penjualan kredit
terhadap piutang dagang, (2) seberapa berpengaruhnya piutang dagang kepada
kelangsungan hidup perusahaan.
Hasil pengujian hipotesis menunjukan
bahwa penjualan kredit berpengaruh terhadap piutang dagang, semakin tinggi
volume penjualan perusahaan maka semakin besar pula piutang dagang dan semakin
besar kemungkinan piutang tidak tertagih akan berdampak kepada perputaran modal
perusahaan dan selanjutnya akan berpengaruh kepada kelangsungan hidup
perusahaan.
Kata
Kunci : Penjualan Kredit, Piutang Dagang, Modal Usaha.
1.
PENDAHULUAN
Persaingan bisnis yang ketat seiring dengan perkembangan
perekonomian dan teknologi dalam memasuki era globalisasi menuntut perusahaan
untuk terus mengembangkan Inovasi produk, meningkatkan kinerja karyawan, dan
melakukan perluasan usaha, agar terus dapat bertahan dan bersaing. Demi
mempertahankan usahanya tersebut, Perusahaan harus memperoleh keuntungan (laba)
yang maksimal dari setiap penjualan produk yang didapatkan. Tidak sedikit
perusahaan yang menjual produknya secara kredit kepada pelanggan. Penjualan
kredit semacam ini sering dilakukan perusahaan dalam rangka meningkatkan jumlah
penjualan produknya di pasaran mengingat keadaan persaingan yang semakin
besar. Transaksi penjualan secara kredit seperti ini pada umumnya disebut
piutang.
Menurut (Warren, et.all 2008:356), istilah
piutang (Receivable) meliputi semua
klaim dalam bentuk uang terhadap pihak lainnya termasuk individual, perusahaan,
atau organisasi lainnya. Masalah
piutang ini menjadi penting manakala perusahaan harus menilai dan
mempertimbangkan berapa besarnya jumlah piutang yang optimal. Mengingat
pentingnya suatu piutang tersebut, Piutang perusahaan harus dikeloka secara
efisien dengan biaya-biaya yang ditimbulkan karena adanya piutang. Semakin
besar piutang semakin besar pula biaya-biaya (Carrying Cost) yang dikeluarkan
perusahaan. Oleh karena itu setiap perusahaan menggambil kebijakan untuk
memberikan kredit yang sudah ditetapkan agar konsumen mereka membayar hutang pada tepat waktu yang telah ditentukan.
Megingat bahwa piutang merupakan bentuk investasi yang cukup besar bagi
perusahaan dan memberikan manfaat bagi perusahaan, maka diperlukan adanya
manajemen piutang yang lebih baik sehigga keuntungan-keuntungan yang didapatkan
lebih meningkat. Selain itu piutang juga dapat mengukur kemampuan perusahaan
dengan keseluruhan dana atau modal yang ditambahkan dalam aktiva yang digunakan
untuk operasi perusahaan dan menghasilkan keuntungan atau laba yang besar bagi
perusahaan.
Penulis dalam penelitian ingin
memilih perusahaan dagang (trade retail) sebagai objek penelitian. Pemilihan
perusahaan dagang (trade retail) dikarenakan perusahaan ini selalu mempunyai
kinerja keuangan dan tingginya persaingan perusahaan dagang (trade retail).
Hal tersebut ditandai dengan banyaknya gedung
pertokoan seperti mall, minimarket, supermarket, disekitar kita, sedangkan
harga kebutuhan pokok selalu mengalami kenaikan.
Mengingat begitu besar pengaruh yang
diberikan penjualan kredit terhadap piutang dagang yaitu piutang tidak dibayar
berdampak kepada perputaran modal dan perkelanjutan kepada kelangsungan hidup
perusahaan, maka peneliti tertarik untuk mengkaji mengenai piutang dagang,
sehingga peneliti menggambil judul “PENGARUH
PENJUALAN KREDIT TERHADAP PIUTANG DAGANG” (Studi Pada Perusahaan Dagang TB.
Laksana Group Periode 2013).
Identifikasi
Masalah
Berdasarakan latar belakan yang telah
dikemukakan, maka masalah yang akan dibahas akan diuraikan sebagai berikut:
- Apakah penjualan kredit berpengaruh terhadap piutang dagang?
- Apakah modal usaha berpengaruh terhadap piutang dagang?
Tujuan
Penelitian
Berdasarkan uraian pada latar belakang
penelitian di atas, permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah untuk
menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi Perputaran Piutang pada Perusahaan
Dagang.
Adapun
tujuan penelitian ini adalah :
- Untuk mengetahui apakah penjualan kredit berpengaruh terhadap piutang dagang.
- Untuk mengetahui apakah modal usaha berpengaruh terhadap piutang dagang.
Kegunaan
Penelitian
Penelitian
ini diharapkan dapat memberikan manfaat antara lain:
Sebagai sarana untuk menambah wawasan dan
pengetahuan dikalangan akademisi secara teoritis mengenai pengaruh peningkatan
penjualan dan penurunan modal usaha terhadap perputaran piutang dagang pada
perusahaan dagang.
Lokasi dan Waktu Penelitian
Data laporan keuangan diperoleh dari laporan
keuangan bulanan perusahaan dagang TB. Laksana Group jalan Sariwangi No. 201
Bandung.
2. TINJAUAN
TEORITIS
PENJUALAN
Aktivitas penjualan merupakan pendapatan
utama perusahaan karena jika aktivitas penjualan produk maupun jasa tidak
dikelola dengan baik maka secara langsung dapat merugikan perusahaan. Hal ini
dapat disebabkan karena sasaran penjualan yang diharapkan tidak tercapai dan
pendapatan pun akan berkurang.
Menurut Mulyadi (1993:204), Penjualan adalah
kegiatan atau transaksi-transaksi yang terjadi di dalam suatu perusahaan untuk
mengalihkan kepemilikan atas barang atau jasa yang tersedia dan sebagai
imbalannya diperoleh satu sumber daya lain seperti atau piutang dagang/wesel
tagih.
Kotler (1995:23), penjualan adalah transaksi
menukar produknya menjadi uang tunai dan memenuhi kebutuhan pelanggan. Jadi
dapat disimpukan bahwa penjualan adalah kegiatan operasi perusahaan dalam
menjual produk yang dihasilkan oleh perusahaan baik secara tunai maupun kredit.
Jenis
Penjualan
Menurut Mulyadi (2001:202), kegiatan
penjualan terdiri dari transaksi penjualan barang dan jasa, baik secara kredit
maupun secara tunai, yaitu:
1. Penjualan
Tunai, dalam penjualan tunai, barang atau jasa baru diserahkan oleh perusahaan
kepada pembelian jika perusahaan telah menerima kas dari pembeli.
2. Penjualan
Kredit, dalam transaksi penjualan kredit, jika order dari pelanggan telah
dipenuhi dengan pengiriman barang atau penyerahan jasa, untuk jasa waktu
tertentu perusahaa memiliki piutang kepada pelanggannya.
PENGERTIAN
PIUTANG
Penerapan sistem penjualan secara kredit yang
dilakukan perusahaan merupakan salah satu usaha perusahaan dalam rangka
meningkatkan volume penjualan. Penjualan kredit tidak segera menghasikan
penerimaan kas, tetapi menimbulkan apa yang disebut dengan piutang, sehingga
dengan kata lain piutang timbul karena perusahaan menerapkan sistem penjualan
secara kredit.
Dalam berbagai referensi piutang sering
juga diartikan sebagai bentuk klaim yang ditujukan kepada pihak lain
sebagaimana definisi yang dikemukakan oleh (Warren, et. all 2008:404)
menyatakan bahwa yang dimaksud dengan piutang adalah meliputi semua klaim dalam
bentuk uang terhadap pihak lainnya, termasuk individu, perusahaan atau
organisasi lainnya. Dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud engan piutang adalah
semua tuntutan atau tgihan kepada pihak lain dalam bentuk uang atau barang yang
timbul dari adanya penjualan secara kredit.
Selain itu, menurut (Munir 2005:15)
lebih mengkhususkan definisi piutang pada piutang dagang, piutang dagang adalah
tagihan kepda pihak lain (kepada kreditur atau langganan) sebagai akibat adanya
penjualan barang secara kredit. Jadi, piutang dagang dapat diartikan bahwa
perusahaan memiliki hak penagihan terhadap pihak lain yang menjadi langganannya
dan mengharap pembayaran dari mereka agar memenuhi kewajiban terhadap
perusahaan.
Jenis Piutang
Selain itu pengertian piutang yang
pada umumnya digolongkan kedalam aktiva lancer yang berarti bahwa
tagihan-taguhan pada pihak lain yang nantinya akan diminta pemayarannya dalam
jangka aktu yang tidak lama (kurang dari satu tahun) yang biasanya digolongkan
dalam piutang jangka pendek.
Piutang
jangka pendek dapat dibagi atas dua yaitu:
1. Piutang
usaha/piutang terhadap langganan
Piutang usaha/piutang terhadap langganan
dalam perkiraan piutang usaha dicatat sebagai tagihan yang timbul dari
penjualan barang atau jasa yang merupakan usaha perusahaa yang normal/kurang
dari satu tahun, disajikan dlam neraca sebagai aktiva lancer, tetapi apabila
telah lebih dari jangka waktu satu tahun maka akan dilaporkan sebagai asset
tidak lancer. Taguhan kepada langganan yang biasanya disebut piutang dagang
adalah tuntutan keuangan terhadap pihak lain.
2. Piutang
yang akan diterima
Piutang
yang akan diterima merupakan kontrak prestasi yang sebenarnya sudah menjadi hak
perusahaan, akan tetapi belum/tidak saatnya untuk diterima, piutang ini timbul
pada suatu akhir periode dimana sebenarnya tagihan tersebut akan diterima pada
periode yang akan datang.
Warren, et. all (2008:405) mengklasifikasikan
piutang usaha, wesel tagih, dan piutang lain-lain sebagai berikut:
1. Piutang
Usaha
Piutang usaha timbul dari penjualan secara kredit agar
dapat menjual lebih banyak produk atau jasa kepada pelanggan. Piutang usaha
semacam ini normalnya diperkirakan akan tertagih dalam periode waktu yang
relative pendek, seperti 30 atau 60 hari.
2. Wesel
Tagih
Wesel tagih adalah jumlah yang terutang bagi pelanggan di
saat perusahaan telah menerbitkan surat utang formal. Wesel biasanya digunakan
untuk periode kredi lebih dari 60 hari. Wesel bisa digunakan untuk
menyelesaikan piutang usaha pelanggan. Bila wesel tagih dan piutang usaha
berasal dari transaksi penjualan maka hal itu kadang-kadang disebut piutang
dagang (trade receivable).
3. Piutang
lain-lain
Piutang lain-lainbiasanya disajikan
secara terpisah dalam neraca. Jika piutang ini diharapkan akan tertagih dalam
satu tahun, maka piutang tersebut diklasifiksikan sebagai aktiva lancar.
Piutang lain-lain (other receivable) meliputi piutang bunga, piutang pajak, dan
piutang dari pejabat atau karyawan perusahaan.
Penggolongan piutang dan umur piutang dapat
digolongkan ke dalam 4 jenis, yaitu:
- Piutang lancar adalah piutang yang diharapkan tertgihnya dalam satu tahun atau siklus usaha normal.
- Piutang tidak lancar adalah tagihan/piutang yang tidak dapat ditagih dalam jangka waktu satu tahun.
- Piutang yang dihapuskan adalah suatu taguhan yang tidak dapat ditagih lagi dikarenakan pelanggan mengalami kerugian/bangkrut (tidak tertagih).
- Piutang dicadangkan adalah tagihan yang disisihkan sebelumnya untuk menghindari piutang tidak tertagih.
Faktor
yang Mempengaruhi Besarnya Piutang
Besar kecilnya piutang dipengaruhi oleh
beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut diantaranya seperti yang dikemukakan
oleh Bambang Riyanto (2008:85-87) seagai berikut:
1. Volume
Penjualan Kredit
Makin besar proporsi penjualan kredit dari keseluruhan
penjualan memperbesar jumlah investasi dalam piutang.
2. Syarat
Pembayaran Penjualan Kredit
Syarat pembayaran penjualan kredit dapat bersifat ketat
atau lunak. Apabila perusahaan menetapkan syarat pembayaran yang ketat berarti
bahwa perusahaan lebih mengutamakan keselamatan kredit daripada pertimbangan
profitabilitasnya. Syarat pembayaran lebih ketat misalnya dalam bentuk batas
waktu pembayaran yang pendek, pembebanan bunga yang berat pada pembayaran
piutang yang terlambat.
3. Ketentuan
Tentang Pembatasan Kredit
Dalam
pejualan kredit, perusahaan dapat menetapkan batas maksimal kredit yang diberikan
kepada para langganannya. Makin tinggi batas maksimal kredit yang ditetapkan
bagi masing-masing langganan, berarti makin besar pula ana yang diinvestasikan
dalam piutang.
4. Kebijaksanaan
dalam Mengumpulkan Piutang
Perusahaan
yang menjalankan kebijaksanaan secara aktif, maka perusahaan harus mengeluarkan
uang yang lebih bsar untuk membiayai aktivitas pengumpulan piutang, tetap
dengan menggunakan cara ini, maka piutang yang ada akan lebih cepat tertagih,
sehingga akan lebih memperkecil jumlah piutang perushaan. Sebaliknya, jika
perusahaan menggunakan kebijaksanaan secara pasif, maka pengumpulan piutang
akan lebih lama, sehingga jumlah piutang peruahaan akan lebih besar.
5. Kebiasaan
Membayar dari Para Langganan
Kebiasaan
para pelanggan untuk membeyar dalam periode Cash Discount akan mengakibatkan
jumlah piutang lebih kecil, sedangkan langganan membeyar periode setelah Cash
Discount akan mengakibatkan jumlah piutang lebih besar Karena jumlah dana yang
tertanam dalam piutang lebih lama untuk menjadi kas.
Kerugian
Piutang
Setiap
penjualan kredit memiliki risiko kerugian piutang karena adanya piutang yang
tidak tertagih. Ketika piutang dagang menjadi tidak tertagih, suatu perusahaan membebankan
kerugian penghapusan piutang dagang. Kerugian ini diakui sebagai biaya dari perusahaan
sehingga dikelompokkan sebagai biaya penjualan. Menurut S. Munawir (2007: 258)
berpendapat bahwa : Semakin besar Day’s Receivable suatu
perusahaan semakin besar pula risiko kemungkinan tidak tertagihnya piutang. Dan
kalau perusahaan tidak membuat cadangan terhadap kemungkinan kerugian yang timbul
karena tidak tertagihnya piutang (Allowance For Bad Debt) berarti
perusahaan telah memperhitungkan labanya terlalu besar (Overstated). Risiko
kerugian piutang terdiri dari beberapa macam yaitu :
- Risiko tidak dibayarnya seluruh tagihan (piutang).
- Risiko tidak dibayarnya sebagian piutang.
- Risiko keterlambatan pelunasan piutang.
- Risiko tidak tertanamnya modal dalam piutang.
Manfaat
Penjualan Kredit
Gunawan Adisaputra
(2003: 43) mengemukakan manfaat penjualan kredit, antara lain:
- Upaya untuk meningkatkan omzet penjualan.
- Meningkatkan keuntungan.
- Meningkatkan hubungan dagang antara perusahaan dengan para langganan.
- Manfaat keuntungan berupa selisih bunga modal pinjaman yang harus dibayarakan
- kepada bank sebagai sumber dana pembelanjaan piutang.
Pengertian Perputaran Piutang Dagang
Penjualan yang dilakukan secara kredit oleh
suatu perusahaan secara otomatis akan mempengaruhi tingkat perputaran
piutangnya. Naik turunnya tingkat perputaran piutang dalam suatu perusahaan
banyak dipengaruhi oleh barbagai macam faktor, baik faktor intern maupun
ekstern.
Pengertian perputaran piutang menurut
Syamsuddin (2001 : 254) adalah sebagai berikut :
”Perputaran
piutang merupakan rasio perbandingan antara jumlah penjualan kredit selama
periode tertentu dengan piutang rata-rata (piutang awal ditambah piutang akhir
dibagi dua)”.
Sedangkan
Keown, Scott, Martin & Petty (2000 :406) mengemukakan bahwa :
“Meskipun beberapa
dari penjualan dilakukan dalam bentuk tunai, sebagian besar akan terlibat dalam
bentuk kredit, kapanpun sebuah penjualan dilakukan dengan kredit , ini akan
meningkatkan piutang perusahaan. Kepentingan tentang bagaimana sebuah perushaan
mengatur perputaran piutangnya bergantung pada tingkatan sebesar apa perusahaan
tersebut menjual dalam bentuk kredit”.
Perputaran piutang dalam suatu perusahaan
tergantung dari bagaimana sebuah perusahaan mengaturnya dan tingkatan sebesar
apa perusahaan tersebut menjual produknya secara kredit. Semakin banyak produk
barang maupun jasa yang dijual secara kredit, maka kemungkinan besar akan
memperlambat pada tingkat perputaran piutang begitupun sebaliknya.
Risiko-risiko
yang Timbul dari Pemberian Piutang
Setiap kebijakan yang dilakukan oleh
perusahaan pasti akan mempunyai dampak dan pengaruh yang ditimbulkan, baik itu
yang menguntungkan maupun merugikan perusahaan itu sendiri. Resiko yang dapat
ditimbulkan terhadap perusahaan yang melaksanakan kebijakan kredit menurut
Muslich (2003 : 116) adalah sebagai berikut :
- Risiko
tidak dibayarnya seluruh piutang
- Risiko
tidak dibayarnya sebagian piutang
- Risiko
keterlambatan pembayaran piutang
- Risiko
tertanamya modal dalam piutang.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa resiko
yang paling berat bagi perusahaan adalah resiko tidak dibayarnya seluruh atau
sebagian piutang, sebab hal ini merupakan kerugian yang paling besar. Apabila
terjadi resiko keterlambatan didalam pelunasan pembayaran piutang, hal ini akan
menimbulkan tertundanya waktu untuk memenuhi kewajiban dari perusahaan yang
harus segera dibayar. Sedangkan apabila terlalu banyak memberikan piutang, maka
dengan sendirinya banyak modal yang tertanam dalam piutang. Oleh karena itu,
perusahaan harus bisa menekan seminimum mungkin terhadap resiko yang timbul
dengan adanya piutang sehingga diharapkan tidak menimbulkan hal yang merugikan
bagi perusahaan.
Alat Analisis Untuk Mengukur
Perputaran Piutang
Menurut
Syamsuddin (2001 : 258) Sebagai cara untuk mengetahui tingkat efektifitas
piutang yang diberikan perusahaan kepada pelanggan, maka perusahaan dapat menggunakan rasio penghitungan sebagai berikut :
1.
Tingkat perputaran piutang /Account
receivable turnover
Merupakan
rasio perbandingan antara jumlah penjualan kredit selama periode tertentu
dengan piutang rata-rata (piutang awal ditambah piutang akhir).
Rumus
perhitungannya adalah sebagai berikut :
2. Hari rata-rata pengumpulan piutang/Average
collection period
Merupakan
jumlah periode waktu atau hari yang akan
digunakan perusahaan untuk mengumpulkan piutangnya.
Rumus perhitungannya adalah sebagai berikut :
3. KERANGKA PEMIKIRAN
Piutang
perusahaan timbul Karena adanya kebijakan perusahaan dalam proses kegiatan
perusahaan dengan sistem kredit. Sehingga menghasikan istilah piutang
perusahaan terhadap peanggan. Perkembangan perusahaan dapat dicapai dengan
meningkatkan kegiatan usaha perusahaan yaitu melalui pelunasan maupun pemberian
kemudahan pembayaran untuk pelanggan sehingga volume penjualan dapat
ditinggikan. Untuk itu perusahaan cenderung melakukan penjualan kredit.
Penjualan yang dilakukan secara kredit menyebabkan perusahaan tidak langsung
menerima pendapaan berupa kas, melainkan piutang.
Penjulan
kredit yang diterapkan perusahaan menimbulkan piutang, dimana dana yang
diinvestasikan dalam piutang tersebut diharapkan akan kembali dalam waktu
kurang dari satu tahun sehingga dapat dijadikan salah satu sumber pendapatan
bagi perusahaan untuk memenuhi kewajiban fiansialnya dalam jangka pendek, maka
dari itu diperlukan suatu aktivitas penagihan yang terencana untuk menjamin
kelangsungan operasional perusahaan. Hal ini dikarenakan jika perusahaan
sanggup mempercepat perputaran piutang, maka waktu terkaitnya modal dala
piutang akan lebih pendek. Semakintinggi perputaran piutang usaha, semakin
cepat perusahaan mendapatkan kas (uang tunai).
Pada
kenyataannya, masalah penjualan secara kredit dan piutang dagang merupakan hal
yang komples dan akan terus ada dan berlanjut, sehingga diperlukan beberapa
faktor-faktor sebagai tolak ukur yang pasti untuk menentukan dampak dari
terjadinya piutang pada perusahaan. Berdasarkan latar belakang dan kerangka
pemikiran tersebut, maka hubungan antara penjualan kredit terhadap piutang
dagang dapat digambarkan dalam kerangka pemikiran sebagai berikut:
Gambar 1.1
Kerangka Pemikiran
4. HIPOTESIS
PENELITIAN
Berdasarkan
uraian dalam kerangka pemikiran dapat disusun hipotesis sebagai berikut:
a.
Hipotesis
1:
Ho: Penjualan kredit berpengaruh terhadap
piutang dagang.
b.
Hipotesis
2:
H1: Modal usaha berpengaruh terhadap piutang
dagang.
5. METODE
PEMBAHASAN
Penelitian
ini berbentuk penelitian deskriptif yaitu suatu metode dalam meneliti status
kelompok manusia, suatu objek, suatu sistem pemikiran, ataupun suatu kelas
peristiwa pada masa sekarang. Tujuannya untuk membuat deskripsi, gambaran atau
lukisan secara sistematis, factual, dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sif at
yang diselidiki (Nazir, 2003).
6. PEMBAHASAN
Kredit
mengandung pengertian adanya suatu kepercaya dari seseorang atau badan yang
diberikan kepada seseorang atau badan lain atas penundaan pembayaran atas
barang atau jasa yang manfaatnya dirasakan saat ini dengan pembayaran yang
dilakukan dimasa yang akan datang. Pemberiankredit dilakukan menurut prosedur
dan kebijakan yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Dengan adanya kebijakan
kredit diharapkan pembeli dapat menepati jangka wktu pembayaran yang telah
ditentukan.
Kebijakan
penjualan kredit menyangkut kebijakan untuk menentukan seberapa besar
perusahaan dapat melakukan penjualan kredit dan kepada siapa saja perusahaan
dapat menjual secara kredit. Dalam hal ini, analisis tidak hanya menyangkut
tingkat kepercayaan financial kepada pelanggan, tetapi juga menyangkut estimasi
jumlah kredit yang mampu ditanggung oleh pelanggan. Oleh karena iu, perusahaan
biasanya akan menetapkan batas kredit yang boleh diberikan kepada pelanggan.
Berdasarkan pembahasan diatas, terdapat tabel
dan grafik hasil penjualan dan piutang TB. Laksana Group.
Tabel 1.1
Hasil Penjualan per
bulan TB. Laksana Group periode 2013
MONTH
|
SALES
|
JANUARI
|
52,430,000.00
|
FEBRUARI
|
68,119,000.00
|
MARET
|
80,111,000.00
|
APRIL
|
80,983,000.00
|
MEI
|
105,968,000.00
|
JUNI
|
112,198,000.00
|
JULI
|
130,056,000.00
|
AGUSTUS
|
134,500,000.00
|
SEPTEMBER
|
146,111,000.00
|
OKTOBER
|
149,871,000.00
|
NOVEMBER
|
150,021,000.00
|
DESEMBER
|
150,009,000.00
|
Tabel 1.2
Piutang Dagang per
bulan TB. Laksana Group periode 2013
MONTH
|
ACCOUNT
RECEIVABLE
|
JANUARI
|
22,430,000.00
|
FEBRUARI
|
38,119,000.00
|
MARET
|
55,111,000.00
|
APRIL
|
55,983,000.00
|
MEI
|
80,968,000.00
|
JUNI
|
97,198,000.00
|
JULI
|
115,056,000.00
|
AGUSTUS
|
119,500,000.00
|
SEPTEMBER
|
121,111,000.00
|
OKTOBER
|
119,871,000.00
|
NOVEMBER
|
120,021,000.00
|
DESEMBER
|
120,009,000.00
|
Gambar 1.2
Grafik Hasil
Penjualan
Gambar 1.3
Grafik Piutang Dagang
Tabel dan grafik diatas menunjukan
hasil penjulan dan piutang TB. Laksana Group dari bulan Januari sampai Desember
tahun 2013. Tabel 1 menunjukan hasil penjualan yang terus meningkat dan Tabel 2
menunjukan piutang dagang.
Dalam
kasus ini Toko Bangunan Laksana Group bergerak dalam bidang penjualan
barang-barang bangunan atau matrial dan transaksi yang dikalukan setiap harinya
cukup besar, dalam meningkatkan pendapatan dan meningkatkan volume penjualan
toko sudah tentu membutuhkan kebijakan penjualan secara kredit yang akan
menghasilkan piutang dagang bagi toko. Dengan kebijakan penjulan secara kredit
ini berarti perusahaan akan menghadapi beberapa resiko yang timbul. Resiko
tersebut meliputi besarnya modal usaha yang tertanam dalam piutang dagang,
keterlambatan dalam melunasi piutang dagang, bahkan resiko tidak dibayarkannya
sebagian atau seluruh utangnya akan berdampak merugikan bagi toko.
Piutang yang tidak dapat ditagih atau
disangsikan penerimaannya secara keseluruhan menyebabkan masalah modal usaha
yang artinya macetnya pembayaran sejumlah uang dari toko ke pemasok. Jika
piutang hanya dapat ditagih sebagian maka di masa yang akan datang akan
mengurangi pendapatan perusahaan. Namun jika risiko berupa terlambatnya
pelunasan piutang, maka perusahaan harus menambah dana untuk penagihan sehingga
menimbulkan biaya yang lebih besar bagi perusahaan. Piutang dicatat atau
dilaporkan dalam neraca menurut Standar Akuntansi Keuangan. Kerugian piutang
ini sangat mempengaruhi keadaan aktiva lancar yang berarti akan sangat
berpengaruh dalam tingkat perusahaan membayar hutang usahanya.
Menurut grafik 1 diatas menunjukan bahwa terjadi peningkatan penjualan
yang fluktuatif di setiap bulannya, begitu juga dengan grafik 2 menunjukan
peningkatan piutang dagang yang fluktuatif, yang menunjukan bahwa apabila
volume penjualan meningkat akan berpengaruh kepada peningkatan piutang dagang.
Hasil penelitian ini juga didukung oleh landasan teori pada pembahasan sebelumnya yang menyebutkan bahwa penjualan kredit menentukan seberapa besar perusahaan dapat meningkatkan penjualan tanpa mengurangi modal usaha, akibat dari besarnya penjulan kredit akan meningkatkan pula piutang tak tertagih dan kepada siapa saja perusahaan dapat menjual secara kredit. Pertumbuhan penjualan juga merupakan indikator penermintaan dan daya saing perusahaan dalam suatu pasar. Laju pertumbuhan suatu perusahaan akan mempengaruhi kemampuan mempertahankan keuntungan dalam menandai kesempatan-kesempatan pada masa yang akan datang.
KESIMPULAN
DAN SARAN
Kesimpulan
Pembahasan ini meneliti mengenai
pengaruh penjualan kredit terhadap piutang dagang. Berdasarkan hasil survey
dalam penelitian ini, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
- Variabel penjualan secara kredit berpengaruh terhadap piutang dagang. Artinya semakin tinggi tingkat volume penjualan maka semakin tinggi juga tingkat piutang dagang yang dihasilkan, dan semakin besar juga modal usaha yang dipakai.
- Penjualan secara kredit juga mempengaruhi tingkat besaran modal usaha yang dipakai dan meningkatkan kemungkinan piutang yang tidak tertagih.
- Bagi perusahaan atau pengusaha diharapkan untuk bisa meminimalisir piutang dagang agar piutang dagang yang di berikan kepada pelanggan tetap lancar dan tidak menjadi piutang tak tertagih yang menyebabkan kepada kelangsungan hidup perusahaan.
DAFTAR
PUSTAKA
Gunawan Adisaputra.
2003. Analisa Laporan Keuangan. Liberty: Yogyakarta.
Keown,
Arthur J., et al., 2000. Basic Financial
Management, Ahli Bahasa, Chaerul D.
dan Dwi Sulisyorin, Dasar-Dasar Manajemen
Keuangan, Buku Kedua, Jakarta:
Salemba Empat.
Kotler,
Philip, 1995. Principles of Marketing,
Fifth Edition, Prentice-Hall Inc., New Jersey.
Lukman Syamsuddin.
2009. Manajemen Keuangan Perusahaan. Rajawali Pers: Jakarta.
Mulyadi.
2001. ”Sistem Perancangan dan
Pengendalian Manajemen”. Jakarta: Salemba Empat.
Munawir. 2001. Analisa
Laporan Keuangan. Yogyakarta : Liberty.
Muslich
Mansur. 2003. KTSP Dasar Pemahaman dan
Pengembangan. Jakarta: Bumi Aksara.
Nazir,
Mohammad. 2003. Metodologi Penelitian.
Edisi Revisi. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Riyanto, Bambang.
2008. Dasar Pembelanjaan Perusahaan. Yogyakarta: BPFE.
Warren, R.F.2008. Pengantar Akuntansi, Edisi
21, Buku Satu. Salemba Empat. Jakarta.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar